Bangga ketika menyemat title mahasiswa. Selesai dari bangku sekolah banyak dari kita yang berebut-rebut, berlomba-lomaba untuk mengikuti seleksi penerimaan mahasiswa baru di berbagai perguruan tinggi yang ada. Dengan modal izajah yang di miliki dan keinginan yang besar kita pun mulai mencari perguruan tinggi yang kelak akan menjadi tempat kita menepa ilmu. Di dorong oleh faktor keluarga dan lingkungan maka niat yang kita miliki akhirnya tercapai.
Namun sadarkah kita ketika kita sudah menjadi dan menyemat title sebagai mahasiswa maka beban yang akan di pikul di pundak ini begitu berat. Tuntun orang tua, keluarga yang ingin kita menjadi mahsiswa yang berhasil seolah –olah kan memlupakan peran dan fungis kita sebagai mahasiswa, sehingga tidak jarang kita melihat dan mendapatkan mahasiswa yang meiliki sifat apatis, hedeonis dan prakmatis di karenakan dorongan dan tekanan lingkunagan. Perlu rekan-rekan ketahui mahasiswa memiliki tiga peran fungsi selain harus belajar atau mengkuti aktifitas kuliah di antaranya mahsiwa adalah Agen of Change, Agen of Countrol dan Moral force.
Di mana di tangan mahasiswa dan di pundak mahasisawa tersimpan amanah yang begitu besar untuk Negara ini. Mampu kah kita mnenjadi mahasiswa yang mampu memberi damapak atau efek bagi lingkungan sekitar kita. Ketika kita menjadi mahasiwa maka kita bukan hanya akan menjadi seseorang yang membeli status baru di tengah masyarakat. Yang ketika kita menyemat sebagai mahasiswa maka kita berjalan dengan membusungkan dada dan mengangkat kepala seakan-akan bangga dengan status yang telah berubah,
Kehadiran kita di dunia perkuliahan akan membuat orang semakin bangga namun mampukah kita dengan kebanggaan yang di miliki membawa perubahan bagi diri kita dan orang lain. Kalau saja sifat apatis, hedeonis dan prakmatis masih melekat pada pikiran kita. Maka dari itu mulai saat ini kita harus mulai merubah pola pikir yang memberikan dampak yang kurang baik. Karena kelak kita akan kembali di tengah masyarakat dengan membawa title yang telah kita raih. Kampus adalah wadah bagi kita untuk mendidik prilaku, menajdikan kita sebagai orang yang dapat bermamfaat dan berguna bagi orang lain.
Fasilitas yang terdapat di dalam kampus akan memberikan dan membagi pengalaman bagi anda yang kini dan ingin merubah prilaku san sikap. Menjadi mahasiwa begitu indah namun lebih indah lagi jika kehadiran kita lebih berguna mengutip perkataan orang bijak “ jadikan kehadiran kita memberikan beban pada sebuah timbangan jangan jadikan kehadiran kita hanya sebagai angin lalu sehingga tidak memberikan perubahan pada timbangan itu” semoga tulisan ini mampu memberikan motivasi bagi rekan-rekan sehingga kita tidak hanya menjadi mahasiwa 3 D 1 P, yaitu dating, duduk, diam dan pulang. Tanpa mampu memberikan kontribusi yang lebih bagi diri sendiri dan orang lain.
* Hariyadi Eko. P ( Adong ) *
Oleh : Hariyadi Eko. P
Malam yang kian larut di hari yang ke 16 ramadhan ini, memebrikan bebarapa pengalaman dan pelajaran yang tak pernah akan ku lupakan. Bulan ramhdan adalah salah satu bulan yang paling mulia dari bulan-bulan yang lain. Di bulan yang penuh dengan ridho Allah, kita akan dapat menjadikan bulan ini sebagai waktu bagi kita untuk merenungkan apa yang telah kita lakukan selama hidup. Selama kita menjalani kehidupan mungkin jarang sekali kita untuk berbagi kepada saudara-saudara yang merindukan hangat peluk dan senyum kita. Mungkin saja di bulan yang lain kita hanya bise tersenyum melihat betapa banyak saudara kita yang harus hidup di garis kemiskinan. Tidur beralaskan Koran, makan seadanya.
Di bulan yang penuh dengan ridho Allah ini, jangan lah kita melakukan sesuatu hanya berharap pahala yang ia berikan, namun bagaimana kita hari ini melakukan sesuatu untuk mengharapkan ridhonya. Di bulan yang penuh ridho Allah ini, ternyata tak menyulutkan teguran Allah kepada kita. Apakah teguran itu berupa bukti sayangnya ia kepada kita ataukah teguran itu berupa pelampiasan amarahnya , karena dosa-dosa yang telah kita lakukan. Kita mendengar dan melihat berapa banyak saudara kita yang harus kehilangan nyawa di bulan ini, betapa banyak orang wanita yang menjadi janda, betapa banyak laki-laki yang menjadi duda, dan betapa banyak anak-anak yang harus menjadi yatim dan piatu.
Derita mereka adalah derita kita. Ketika derita itu dirasakan begitu perih maka perih itu akan kita rasakan pula. Namun bagaimana kita sebagai saudara yang katanya mersakan tapi tidak melakukan sesuatu bagi mereka. Sudah berapa banyak shalat yang kita lakukan, sudah berapa banyak, ibadah-ibadah yang lain kita lakukan namun sudah kah tergerak hati kita untuk membantu mereka. Uluran tangan kita sangat dan selalu di nantinya, walaupun mereka tak berkata, namun mereka sangat membutuhkan itu. Bulan ramdhan yang indah ini, bila kita berkumpul bersama keluarga, tertawa riang, bercanda gurau namun kini disekitar terdapat orang yang tawanya berganti air mata, gurauannya berganti teriakan kepedihan. Mampukah hati kita merasakan.
Koboi adalah pahlawan yang tidak pernah berharap mendapatkan balasan dari apa yang ia lakukan. Ia datang dari horizon menuju suatu daerah yang sedang tertimpa musibah, dan pergi setelah ia menyelesaikan masalah itu. Kita adalah di ibaratkan seperti koboi. Ketika penderitaan terlihat dimata, ketiak jeritan terdengar maka kita akan berada di sana dan pergi setelah derita dan jeritan itu hilang tanpa menharapkan ucapan terimakasis ataupun balasan dari mereka.
Pertanyaan yang besar mampukah kita melakukanya ? jawabanya pasti mampu. Apabila semua itu di mulai dari keyakinan dan niat yang tulus. Sekarang saatnya kita membuktikan kepada mereka bahwa kita hadir bukan hanya menjadi makhluk Allah yang Apatis, Prakmatis, dan Hedeonis. Namun kehadiran kita memnberikan mamfaat kepada mereka. Maka “ jadikan hidup kita bermamfaat bagi kita dan orang lain”. Semoga derita saudara-saudara kita yang tertimpa musibah gempa dapat teratasi. Dan yakinlah bahwa semua itu bukti sayangnya Allah kepada kita dan sebagai bahan renungan kita bersama.
Hariyadi Eko. P
* Penulis Kabid PTKP Komisariat Syariah *
Oleh : Hariyadi Eko. P
Sore yang mendung sekitar pukul 4 menyelimuti kota Pontianak. Di dalam kamar bersama leptop dan beberapa batang rokok aku pun memandangkan mata ini ditepi jalan. Kebiasan remaja di kota Pontianak yang selalu ramai bila matahari mulai terbenam. Satu perrsatu pemuda dan pemudi berkeluaran dengan kendaraan. Ada yang sendirian dan ada yang berjalan dengan pasangan.
Pontianak ibarat kota metropolitan yang penuh dengan beraneka ragam tingkah laku manusianya. Kehidupan di sini penuh dengan glamour tapi tidak semuanya. Baru beberapa hari pasca lebaran haji Pontianak terus diguyur hujan namun tak membuat pemuda-pemudi disini menutp diri untuk menghabiskan waktunya. Biasanya tempat yang menjadi tujuan mereka adalah kafe-kafe yang berada ditepi jalan yang menyediakan layanan Hospot. Namun ada juga yang menghabiskan waktu mereka nyantai dibundaran untan sambil melakukan aktivitas olahraga.
Liat saja aku dari kamat tempat menghabiskan waktu dapat melihat berbagai macam pakaian yang mereka pakai. Piker ku mereka ingin menarik perhatian lawan jenisnya. Satu persatu wanita muda mulai berkeluaran dari dalam gang dan mulai memamerkan diri mereka. Terkadang aku berfikir apakah mereka yang mengunakan pakaian yang beklum jadi itu tidak merasa kedingan. Di hari yang mendung begini aku saja merasa kedingan dengan pakaian yang serba tertutup. Tapi lihat mereka, mereka seakan santai dan tidak perduli dengan kesehatannya sendiri. Memakai pakain yang mudah dilihat dan mudah dihinggapi angin.
Tapi aku piker itu urusan mereka dan sebagai kaum adam aku hanya bisa menikmati tubuh yang selalu mereka pamerkan. Kini sebagian remaja sudah terbius dengan kehidupan ala artis. Mnganggap pakaian yang mereka gunakan mebuat daya tarik yang lebih bagi kaum adam. Namun tanpa mereka sdari mereke sudah kekurangan nilai dipandangan kaum adam. Aku selalu mengatakan kepada teman perempuan dikampus, seorang perempuan yang menutup dirinya dengan pakain rapi maka ia memilki nilai yang tak terhingga dan bahkan tidak dapat dihitung. Namun berbeda dengan wanita yang membuka dirinya dengan pakaian ala artis. Wanita yang selalu membuka dirinya dengan pakain ala artis itu nilainya dimata lelalki tak seberapa bahkan dapat dinilai dengan nominal dan tidak menutup kemungkinan nilai mereka di bawah nilai uang seribu.
Orang tua adalah seorang pendidik yangbertanggung jawab untuk mendidik anak-anaknya. Namun apa yang terajdi disekeliling kita menimbulkan pertanyaan. Seberapa besarkah peran orang tua terhadap pendidikan anak mereka ? sehingga banyak wanita yang masih sangat remaja harus berpakain yang tidak seronok. Memang penampilan fisik bukanlah yang menjadi penilaian utama, tapi secara tidak langusng itu akan membuat pola piker yang negative terhadap mereka sendiri dan jauh dari apa yang disyariatkan agama. M
Mungkin dunia sudah terbalik. Ataukah pola piker kita yang terbalik. Melihat realita yang terjadi ini. Sekarang bukan banyak lagi tapi seluruh laki-laki lebih sopan dari pada perempuan. Lelaki dapat menempatkan dirinya. Liat saja pakaian yang kaum adam pakai tidak ada yang setengah jadi. Tapi kini banyak kaum hawa yang menggunakan pakian yang setengah jadi dan ini membuat banyak sekali kriminalitas terjadi. Betul kata seoarng pepatah yang menghancurkan kehidupan itu hanya ada tiga, pertama harta, kedua tahta dan ketiga adalah wanita. Ini bukan hanya PR orang dan ulama, tapi ini Pr kita bersama dalam menyadarkan prilaku yang menyimpang. Semoga saja semakin dewasa maka pola piker mereka juga dapat berubah.
Diri ini bukan lam manusia yang sempurna, tapi setidaknya kita mengurangi kemaksiatan yang kian terjadi.
Oleh: Hariyadi Eko.p
Matahari telah menyinari sabtu pagi, pagi yang cerah membuat sekelompok orang di kampus tepatnya di sekretariat Badan eksekutif Mahasiswa ( BEM ) terbangun. Satu persatu mereka mulai di sibukan dengan urusan pribadi, sebut saja, Deby mantan pengurus BEM ini sibuk dengan penyapu, memebersihkan ruangan agar tak kelihatan kusam. Sugeng, mantan Presiden mahasiswa tahun 2006 ini langsung bergegas mengambil sebuah leptop yang berada di dalam ruangan hanya untuk bermain facebook. Bak makanan ia pun tak teringat untuk mandi. Ilyas sibuk dengan HP kusam dan perlatan elektroniknya, bakat terpendam yang ia miliki memang tak sesuai dengan jurusan kuliah yang ia ambil.
Ekos masih terlelap tidur dan tak menghiraukan orang-orang di sekelilingnya, maklum saja malam tadi ia harus lebur karena harus antri semalaman hanya untuk bermain facebook. Ahmed yang juga mantan anggota BEM di sibukan dengan membeli sebongkah es batu, setiap hari kami yang berada di kem ini selalu membeli sebuah es batu hanya untuk di carikan dan sebagai air minum. Sedangkan aku….lekas bergegas mencari air untuk menggosok gigi, sambil menunggu leptop yang di gunakan teman. Sabtu pagi di kampus yang penuh dengan kekosongan aktivitas karena libur, membuat kami leluasa untuk menguasai. Seluruh anngota BEM entah kemana sehingga sekretariat BEM dapat kami gunakan sebagai kost sementara.
Kesibukan para pengelana masih saja berlangsung. Dari belakang kem terdengar kesibukan. Kesibukan yang memberikan aroma harum dan membuat semua penghuni ini terasa lapar. Harum itu bak haruk ayam kaldu bagi siapapun yang mencium harumnya maka semua akan mengira di kem ini sedang ada acara makan besar. Ya…….aroma ayam kaldu itu berasal dari 5 bungkus mi instant yang beraromakan kaldu. Satu persatu personil yang di sibukan dengan aktivitas mulai mendekat, ekos yang tertidur lelap, terbangun dan bergegas duduk bersama hanya untuk melahap ayam kaldu yang berasal dari 5 bungkus mi instant. Namun ada seorang yang benar-benar tidak menghiraukan makan itu. Sebut saja sugeng rohadi mantan presiden mahasiswa STAIN ini tak berani meninggalkan tempat duduk dan aktivitasnya. Hanya karena ketakutan kalau-kalau leptop yang berada di depannya akan di ambil.
Mau tahu mengapa …karena ada beberapa orang yang berada di kem ini sedang di landa virus facebook, sehingga semenit saja meningglakan barang elektronik ini maka tak ada kesempatan kedua untuk bermain fb. Dan aku harus menahan perasaan, hasrat ingin bermain fb harus ku pendam sedalam-dalam mungkin karena sang raja fb ( SR) sudah menguasai kursi empuk kekuasaan Ha…ha…..namun di balik kesibukan semua orang yang berada di kem ini memiliki pikiran yang sama. ya pikiran yang sama dengan satu persoalan yaitu bagaimana hari ini kita semua bisa menikmati sepiring nasi tanpa harus membayar. Tanpa harus merogoh uang yang sudah tak ada lagi menginap di saku celana.
Menikmati songgok nasi tanpa harus membayar ternyata bukan hanya mimpi itu semua akan menjadi kenyataan. Karena hari ini dadang teman sekampus kami hari ini akan mengadakan pesta pernikahannya. Pesta pernikahan yang bertempat di daerah kakap nun jauh di mata dengan jarak tempuh kurang lebih 45 menit perjalanan menggunakan kendaraan tak membuat kami gentar. Hari mulai siang satu persatu penghuni kost sementara mulai kelelahan, ada yang tertidur dan ada yang bergantian untuk bermain fb. Ya..akhirnya aku mendapatkan giliran….sebelum ku lanjutkan ada yang tertinggal cerita nya, sekitar pukul 8 tadi ada suara wanita yang memanggil-manggil dari luar. Suara yang begitu ku kenal membuat ku bergegas keluar untuk melihat. Hem…hem ternyata benar ka. Yaya seorang wanita yang menganggap ku sebagai adiknya kini berada di hadapan mata. Sudah beberapa minggu kami tak ketemu dan sudah lama tak ada komuniksi, dan baru kali ini aku melihatnya kembali. Ups……sampai di sini kita lanjutkan lagi cerita yang terputus tadi. Menadapatkan giliran setelah menunggu berjam-jam membuat aku berfikir untuk sebagai “penguasa”. Hari ini tak ada seorang pun yang boleh mengganggu. Karena sang penguasa sudah kembali. Namun waktu terus begitu berlalu terdengar suara teraikan dari masjid pertanda waktu shalat dzuhur telah datang. kesibukan bersama leptop pun harus berakhir.
Kembali bermain fb untuk menemani hari sepi. Di fb bukan hanya sebagai pelampiasan namun menacari teman-teman baru di dunia maya. 3 jam waktu bermain terasa begitu sebentar, ku lihat jarum jam sedikit demi sedikit mulai mengarah pada angka 3. Namun di balik angka 3 ada sesuatu rezeki yang akan kami aku dan teman-teman dapatkan. Usai shalat ashar satu persatu personil mulai membenahkan diri, ada yang bergegas mandi dan ada pula yang hanya memnggunakan minyak pewangi. Kakap, sungai rengas adalah tempat yang akan kami tuju, di sana ada sebuah pesta pernikahan. Antara seorang mahasiswa dan seorang anak kepala desa. Sang calon suami adalah teman kami di kampus jadi moment-moment bahagia seprti ini tidak akan pernah kami lewatkan, karena tak akan terulang ke dua kali bagi dadang dan kami.
Semua sudah siap sekitar 8 motor lebih akan peri bersama, 1 jam perjalanan tak membuat gentar. Sesampainya di tempat pesta pernikahan kami seluruh sahabat sang mempelai laki-laki di persilakan masuk untuk menikmati makanan. Yap……tanpa basi-basi beberapa pengelana mulai beraksi untuk membasmi. Usai makan sifat jahil keluar, hasrat ingin menghibur pun terlintas di pikiran ku. Ku lihat di depan tenda pesta ada sebuah panggung berisikan band dan para penyanyi dan itu akan aku mamfaatkan. Sebut saja ekos kawan yang besar tinggi ini akan menjadi korban kejahilan. Ku panggil seorang pria yang sedikit sudah tua, untuk memberitahukan kepada Msi bahwa ekos ingin menyumbang sebuah lagu.
Aku tertawa, dari atas panggung Msi pun memberikan teriakan kepada ekos untuk naik keatas panggung dan menyumbangkan lagu. Bagaimana pun caranya menghelak ia akhirnya mengikuti kemauan kami. Mau tidak mau dengan suara yang begitu bagus bak burung gagak ia pun bernyanyi. Untung saja di atas pengung ada beberapa teman yang menemaninya bernyanyi sehingga di sana ia tak sendiri. Tertawa riang sebagai penutup ketika ekos mengakhiri sebuah lagunya. Hari semakin sore, kami pun ingin bergegas pulang. Satu persatu sahabat mulai menyalami. Pelukan hangat sang sahabat membrikan pertanda bahwa kebahagian yang di rasakan dadang adalah kebahagian kami juga. Ketika aku memeluk teman ku yang menikah ini aku hanya memberikan pesan “motor jangan lupa di kembalikan” tertawa di tengah pesta tak ku hiraukan. Ya….sepeda motor ku pinjamkan kepada nya. Adzan maghrib telah terdengar, kami pun melakukan shalat berjamaah di salah satu rumah warga. Usai shalat kami pun kembali pulang karena perang ( makan ) sudah usai.
Rezeki di tangal 1 agustus belum berakhir. Jauh perjalanan tak membuat ku lelah untuk bermain fb, mencari teman di dunia maya. Namun baru sebentar bermain, handpone ku berbunyi, ku anggkat ternyata yang menelponku adalah manta sang. Majikan. Ia menyuruh ku untuk pergi ke sebuah acara doorprize perusahaan. Dimana di sana ia mengatakan acaranya makan-makan dan bagi-bagi hadiah.
Pulang membawa sebuah kompor gas milik sang majikan. ………………………..bersambung di kisah selnjutnya…………
Oleh : Hariyadi Eko Priatmono (Adong)*
Pemilihan orang nomor satu baru saja kita laksanakan. Kawan-kawan mungkin sudah mendengar dan membaca baik di media elektronik maupun di media massa tentang siapakah bakal calon persiden yang akan memimpin negeri ini. Perlu di perjelas bahwa memimpin negeri ini adalah amanah yang paling besar.
Amanah yang di berikan rakyat kepada mereka agar mereka mampu membawa angin surga di tengah hembusan angin neraka. Angin neraka yang di maksud adalah kehidupan yang tiadak pernah pada ada perubahan. Negeri ini sudah beberapa kali terjadi penggantian pemimpin. Dari era Soekarno hingga era Susilo Bambang Yudhoyono. Sudah berapa puluh tahun negeri ini merdeka akan tetapi masih saja kesengsaraan menindas rakyat. Kesengsaraan dari sudut pandang ekonomi dan pendidikan masih mereka rasakan.
Kawan-kawan mungkin dapat melihat masih banyak saudara-saudara kita yang harus meminta-minta hanya demi sesuap nasi. Kemiskinan membuat mereka harus membutakan mata dan menulikan telinga akan hinaan dan hujatan orang-orang di sekitarnya. Kawan-kawan masih dapat melihat bahwa masih banyak saudara-saudara kita yang masih belum merasakan kesetaraan pendidikan. Kita selalu berharap dengan program pendidikan gratis yang diberikan pemerintah dapat menampung saudara-saudara kita yang sama sekali tidak pernah mengecap dunia pendidikan.
Terlepas program tersebut sebagai bahan-bahan kampanye, yang terpenting saat ini semua orang harus dapat merasakan pendidikan. Kita sebagai rakyat kecil yang selalu menjadi kelompok komoditi demi keberhasilan mereka untuk berkuasa. Kita selalu berharap mereka tidak membutakan mata ketika melihat masih banyak rakyat tertidur pulas di depan gedung-gedung yang hanya beralaskan Koran. Itu semua bukanlah kemauan mereka, tetapi karena janji-janji politikus yang begitu sejuk sehingga membuat kita percaya.
Kita sebagai rakyat jelata selalu berharap, mereka tidak menulikan telinga ketika mendengar teriakan, jeritan yang kita lontarkan. Jeritan yang merasakan indahnya hidup dengan kesusahan dan jeritan yang merasakan bahaginya menjadi kaum tertindas. Kita sebagai rakyat selalu berharap siapun yang menjadi pemimpin di negeri ini akan mampu membawa angin surga bagi kaum tertindas. Karena memimpin negeri ini adalah amanah dari Rakyat dan Tuhan.
Ini semua adalah pelajaran bagi kita semua yang berkeinginan untuk menjdi sang Pemimpin. Tak terkecuali pemimpin yang akan berkuasa di kampus ini. Kita berharap di pemilihan orang nomor satu di kampus ini adalah orang-orang yang benar-benar mampu mengemban amanah mahasiswa STAIN Pontianak, siapapun yang akan mencalonkan diri untuk menjadi pemimpim kampus ini harus memiliki sikap siap kalah dan siap menang. Legowo menerima kemenangan orang lain dan legowo menerima kekalahan diri sendiri.
*) Penulis adalah Calon Presiden Mahasiswa BEM STAIN Pontianak
Oleh : Hariyadi Eko. P
Salah satu fungsi hukum adalah alat penyelesaian sengketa atau konflik, disamping fungsi yang lain sebagai alat pengendalian sosial dan alat rekayasa sosial . Pembicaraan tentang hukum barulah dimulai jika terjadi suatu konflik antara dua pihak yang kemudian diselesaikan dengan bantuan pihak ketiga. Dalam hal ini munculnya hukum berkaitan dengan suatu bentuk penyelesaian konflik yang bersifat netral dan tidak memihak. Bila kita melihat kenyataan yang terjadi di negeri ini banyak kasus hukum yang terjadi belum mampu diselesaikan oleh penegak hukum.
Melihat kasus yang penegakan hukum yang terjadi di negeri ini, seakan-akan penegakan hukum hanya berlaku pada rakyat tertindas. Hukum hanya berlaku bagi rakyat yang tertindas tentu sangat merugikan sedangkan dikalangan atas hukum seakan-akan mampu diperjual belikan. Lihat saja kasus yang terjadi dengan Prita yang harus mendekap di ruangan sel hanya karena curhatan hatinya melalui dunia maya terhadap kualitas pelayanan salah satu rumah sakit. Dan kasus yang menimpa Prita mampu menimbulkan reaksi masyarakat yang merasakan bahwa ada ketidakadilan atas vonis hukuman yang dijatuhkan pengadilan terhadapnya. Sehinga timbullah sebuah gerakan solidaritas pengumpulan uang yang berbentuk koin untuk membantu Prita. Bila kita cermati bersama pada dasarnya gerakan yang pengumpulan koin untuk prita adalah sebuah teguran terhadap ketidakadilan penegakan hukum. Dan ini adalah salah satu kasus pengekan hukum yang dirasakan belum adil.
Pada dasarnya pelaksanaan hukum di Indonesia sering dilihat dalam kacamata yang berbeda oleh masyarakat. Hukum sebagai dewa penolong bagi mereka yang diuntungkan, dan hukum sebagai hantu bagi mereka yang dirugikan. Hukum yang seharusnya bersifat netral bagi setiap pencari keadilan atau bagi setiap pihak yang sedang mengalami konflik, seringkali bersifat diskriminatif, memihak kepada yang kuat dan berkuasa. Tentu saja ini dirasakan sangat merugikan kita yang secara status sebagai rakyat biasa. Salah satu kasus yang sedang hangat di masyarakat adalah penyelewangan dana talangan sebesar Rp. 6,7 T untuk bank Century. Kasus ini sangat geger karena ini menyangkut uang negara. Tentu dengan adanya tim pansus atau hak angket anggota dewan kita berharap bahwa pelaku penyelewengan dana talangan bank century dapat mempertangungjawabkan perbuatannya dihadapan hukum.
Sebagai rakyat tentu kita selalu berharap baik kepada penegak hukum, pemerintah, maupun wakil rakyat mampu memberikan perubahan atau melakukan revolusi terhadap penegekan hukum. Sehingga hukum di negeri ini tidak hanya berlaku bagai rakyat jelata sedangakan yang berkuasa harus bahagia karena mampu memperjualbelikan hukum yang ada. Prioritas penegakan hukum Inkonsistensi penegakan hukum merupakan masalah penting yang harus segera ditangani. Masalah hukum ini paling dirasakan oleh masyarakat dan membawa dampak yang sangat buruk bagi kehidupan bermasyarakat. Persepsi masyarakat yang buruk mengenai penegakan hukum, menggiring masyarakat pada pola kehidupan sosial yang tidak mempercayai hukum sebagai sarana penyelesaian konflik, dan cenderung menyelesaikan konflik dan permasalahan mereka di luar jalur. Cara ini membawa akibat buruk bagi masyarakat itu sendiri. Pemanfaatan inkonsistensi penegakan hukum oleh sekelompok orang demi kepentingannya sendiri, selalu berakibat merugikan pihak yang tidak mempunyai kemampuan yang setara. Akibatnya rasa ketidakadilan dan ketidakpuasan tumbuh subur di masyarakat Indonesia. Penegakan hukum yang konsisten harus terus diupayakan untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum yang sangat dirindukan segenap rakyat Indonesia.
Oleh : Hariyadi Eko. P
Hidup penuh dengan tantangan, tantangan itu sungguh terasa sulit ketika aku mengadapinya sendiri. Aku merasa hidup ini penuh dengan cobaan yang tak kunjung berhenti. Teringat kehidupan yang di alami kedua orang tua yang selama ini memberikan makna kehidupan. Kesusahan, kekurangan sudah mereka rasakan demi satu tujuan yaitu untuk anak-anak mereka. Aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan, ayah ku adalah mantan pengojek yang telah menjelajahi beberapa wilayah yang ada di Kalimantan barat, sedangkan ibu adalah seorang anak desa yang memiliki cita-cita tinggi dan kini ia menjadi salah satu pendidik.
Tak perlu aku ceritakan perjuangan panjang mereka karena cukup bagi itu semua sebagai pelajaran. Terlahir dari keluarga yang sederhana dan cukup seadanya membuat kedua orang tua ku memdidik begitu indah. Dari perhatian kasih saying yang di berikan hingga teriakan yang selalu ku dengar ketika ke 4 saudara berbuat salah tak lain hanya ingin ke empat anaknya berhasil dan tidak hidup bermewah-mewahan, itu lah yang ku tanggap dari pendidikan yang mereka berikan.
Ayah adalah sosok yang begitu lembut terhadap anak-anaknya jarang sekali aku mendengar celotehan yang sangat keras kepada kami. Ia seakan-akan menjadi penyejuk ketika ibu marah. Ibu selalu memberikan kesan yang begitu keras, sehingga kami selalu berhati-hati dalam bertindak. Teringat cerita lucu di masa kecil yang begitu berkesan dan membekas di dalam hati. Aku dan beberapa saudara selalu kabur ketika ibu mulai marah. Kami selalu kompak apabila ada salah satu dari kami menjadi santapan nikmat oleh ibu. Tak pernah letih untuk mencari cara untuk merayu sang ibu. Semua itu kami sadari karena kesalahan sendiri sehingga mengundang kemarahan beliau.
Namun waktu terus berlalu tak terasa semua mulai berajak dewasa. Kedewasaan saudara-saudara ku semakin tampak ketika kami harus berpisah, ketiga saudara ku akan melanjutkan pendidikan yang membuat kami jarang bertemu. Saat-saat ini lah semakin terasa bahwa bagaimanapun bentuk suatu keluarga baik maupun buruk apabila berpisah tentu akan merasa kehilangan. Aku merasa dan berfikir bahwa didikan yang mereka berikan kepada kami tidak lain demi kebaikan kami sendiri terbukti ke tiga saudara ku kini sudah menjadi sarjana
. Di dalam tulisan ini aku ingin menorehkan cerita hidup yang selama ini aku pendam, aku ingin menuliskan cerita hidup yang ku jalani sehingga menjadi pelajaran banyak orang. Ku awali cerita ku ketika berumur 5 tahun. Di umurku yang masih munyil ini aku telah mersakan apa yang belum di rasakan anak-anak seumuranku. Kehidupan yang berkecukupan tak membuat orang tua ku untuk mengajarkan kemandirian. Aku di ajarkan untuk hidup mandiri agar kelak aku menjadi orang yag mampu hidup tanpa tergantung orang lain ini lah yang ku pahami dari didikan mereka.
Berjualan kelapa, menjajakan kueh, berjual kaset, menjadi penjahit sepatu semua sudah kurasakan demi membantu perekonomian keluarga. Ibu dahulu adalah seorang guru namun profesinya itu tak membuat nya malu untuk menjajakan kueh demi menambah pendapatan keluarga, itu semua tidak lain hanya lah untuk kami. Aku belajar dari kemandirian kedua orang tua ku. Aku merasa bahwa kemandirian tidak terbatas pada usia akan tetapi kemandirian harus di tanam sejak sedini mungkin. Mungkin inilah yang membuat ku merasa ikhlas untuk bekerja karena melihat kondisi keluarga yang masih membutuhkan banyak biaya. Gaji pegawai yang di terima kedua orang tua ku tidak cukup untuk keluarga karena harus menutupi hutang-hutang yang ada. Akan tetapi kehidupan kami boleh di katakan penuh keindahan dan penuh cobaan. Manusia tidak akan pernah terlepas dari coabaan begitu lah kata mereka.
Masa-masa SD ku lalui dengan begitu bermakna. Sewaktu aku duduk di bangku SMP aku pernah menjadi seorang pelayang katin sekolah yang semua itu tak lain demi mendapatkan makanan gratis, ku buang semua rasa malu, yang ada di pikiran ini adalah aku harus belajar hidup dan bertahan hidup. Tapi itu semua bukan berarti kedua orang tua ku melepaskan tangggung jawabnya sebagai orang tua. Mereka tak pernah memaksa ku untuk melakukan semua itu. Akan tetapi itu semua ku lakukan dengan rasa keinginan tahuan. Massa SMP ku lalui begitu penuh bermakna karena banyak sekali pelajaran hidup yang telah ku dapatkan.
Membuka kios itu ku lakukan di massa SMA itu semua berangkat dari keinginan diri sendiri. Keinginan yang begitu besar tak lain hanya ingin belajar hidup mandiri. Dari hasil membuka kios ini aku mampu melengkapi kebutuhan yang ku inginkan, HP, Motor, SPP, jajan, itu semua mampu ku penuhi dari hasil berjualan bensin. Kehidupan yang ku jalani tidak lain aku ingin merasakan dan memberikan makna pada hidup ini. Satu kalimat yang selalu menjadi pegangan hidup ini adalah aku ingin merasakan hidup susah terlebih dahulu, ingin mendapatkan sesuatu maka harus melakukan sesuatu.